Archive forSeptember, 2007

Love is An Art of Winning and Keeping

L-O-V-E. Love. Is there anyone in the world who does not know the word? Everyone are either addicted to love or looking for love or hating it but can’t escape it. Love is a subject that dominates all TV programs, all magazines headlines and even a short stories competition in the leading female magazine in Indonesia. Take any women’s magazine and you will find the word on the cover or the front page (I think the only word that can beat love is.. sex hehe).

What is love? How you define it? Yes, we start with the definition. A good analysis always starts with a critical analysis on the definition of specific term. That’s what Karim thought me :-) Well, this is definitely not an analysis, but it’s good to start with definition anyway. And this is the definition of love in wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Love access on September 30th, 2007)

Love is a constellation of emotions and experiences related to a sense of strong affection or profound oneness.[1] The meaning of love varies relative to context. Romantic love is seen as an ineffable feeling of intense attraction shared in passionate or intimate attraction and intimate interpersonal and sexual relationships.[2] Though often linked to personal relations, love is often given a broader signification, a love of humanity, of nature, with life itself, or a oneness with the Universe, a universal love or karma. Love can also be construed as Platonic love,[3] religious love,[4] familial love,
and, more casually, great affection for anything considered strongly
pleasurable, desirable, or preferred, to include activities and foods.[5][2] This diverse range of meanings in the singular word love is often contrasted with the plurality of Greek words for love, reflecting the concept’s depth, versatility, and complexity.

The scope of the article is limited to a relationship love, a heterosexual one to be spesific :-) When a man finds a woman so attractive and vise versa; when a best friends decide to re-new the terms of their friendship into a relationship; when you are corrupted by the feeling of wanting someone so badly for maybe illogical reasons. That’s love in a different meanings.

A person usually have, what I call, the List. The list of expectations. The list could be so detail in listing down what kind of person you’re looking for. Or on the contrary, the list can be so vague. You may feel that you don’t have the list, but it’s there. Deep down inside you. Whatever it is, we always have, even to a certain degree, the list. The list stimulates and motivates you. We interact with this list, we grow up and be matured with the list. Sometimes the interaction makes us to review and re-think of our list and re-new it. So the list could still be changed, sometimes.

Whatever your list is, the question in the first place is how to win a one’s heart. You win his/her heart, and not only you will win his/her person but also his/her love.

At the end, it’s how to win his/her love. And humans are so creative that we’ve been creating and developing billions of ways on how to win one’s love, whether you use Shakespeare-style to a dangdut singer; whether you use the traditional way, letters and poems with the traditional things, music and flowers or the modern way by being so straightforward, expressive and sometimes in public. At the end (of stage one), love has been used and be able to transformed itself to an art of winning one’s heart.

When I said winning, it means you always in a competition. A competition between you and she/he. And sometimes, a competition between you, she/he and other people. But the bottom is, you always in a competition. And like other competition, it has rules with tips and tricks. It has players who follow and break the rules. Fair and unfair play. Honest or cheating players. So be creative, but be aware because it is a competition you’re facing with.

Once you win the game, you’ll go to the next stage, a post-winning stage. A game of keeping.

(to be continued, hehee)

Comments (1)

Efek Rumah Kaca: Nafas Baru Musik Indi Indonesia

Baru-baru ini, seorang teman di kantor akhirnya berhasil menelurkan album musiknya. Namanya cholil. Pekerjaan sehari-harinya adalah manajer keuangan LeIP (Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan), sebuah NGO dalam garda terdepan untuk reformasi peradilan, merangkap bendahara koperasi Puri Imperium. 

Buat komunitas "puri", kehadiran CD Cholil ini sudah ditunggu-tunggu. Sudah rahasia umum kalau jiwa bapak satu ini di musik. Musik dan musik. Mengutip RGA (Rival Ghulam Ahmad-red), Cholil adalah salah satu dari kami, komunitas di Puri Imperium, yang tujuan hidupnya jelas. Sejelas ketika orang yang sedang diuji matanya secara gratisan di optik murahan akhirnya menemukan lensa yang tepat. Musik bagi cholil sudah mengakar kuat seperti Tenaga Dalam yang merupakan energi murni tenaga yang bersumber dari dalam tubuh kita, yang meski bisa diajarkan, dibagi dan ditularkan ke orang lain namun tidak dapat dirampas dan baru hilang manakala si pemiliknya mati. Orang seperti Cholil adalah tipe yang tidak setengah-setengah dan tidak bosan terhadap apa yang menjadi nafasnya: musik. Ia merupakan penikmat, pelaku sekaligus kreator musik.

Singkat kata singkat cerita, CD musik yang belum resmi di launching ini sudah beredar di pasar (setidaknya pasar dalam lingkup pertemanan, hehehe) dan bisa dinikmati dengan membeli CDnya seharga Rp. 35.000 melalui Cholil (0816 1915928) atau menikmatinya secara gratisan di internet (lihat di www.myspace.com/efekrumahkaca)

Nama grupnya, efek rumah kaca. Diambil dari salah satu lagu di CD itu. Personil bandnya: Cholil (gitar merangkap vokalis), Akbar (Drum & Back Vox) dan Adrian (Bass & Back Vox). Musiknya 100% indi. Kenapa dibilang 100%? Karena bukan cuma "indi" dari pengertian jenis musiknya tidak berada dalam jenis musik mainstream pasar, tapi juga dari segi pembuatan, distribusi dan penjualan.. juga "indi" atau independent. Artinya: tidak bergantung dan menggantungkan diri pada industrialisme musik yg berorientasi pasar. Mungkin tidak se"indi" cozy street corner yg menurut gue musiknya benar-benar keluar dari selera pasar pada umumnya (sorry, lil hehehe), tapi setidaknya –ini pendapat dari seorang penikmat musik amatiran yang hanya menjadikan kuping dan selera subyektifnya sebagai dasar penilaian :P– musik dan juga liriknya Efek Rumah Kaca enak didengar, dinikmati dan diulang-ulang.

Album ini layak diacungi dua jempol. Tiap lagu seolah punya cerita, punya makna. Persis nasehat seorang Dionne Warwick pada Michael Jackson. Every song is a story. Tiap lagu dikemas dalam paduan antara musik yang asik dengan lirik yang singkat, padat, penuh makna yang disusun dalam rangkaian kosa kata bahasa Indonesia yang bervariasi.

dan yang paling penting.. kritis.

Ya. Kritis. Cholil sebagai pencipta mayoritas lagu-lagu Efek Rumah Kaca mengkritik di segala bidang. Mengkritik segala sesuatu yang berada di jalur mainstream. Apapun itu.Mulai dari mengkritik industri musik dan bentukan selera pasar musik yang isinya habis mengeksplorasi cinta sebagai barang jualan andalan (coba dengar cinta melulu) hingga mengkritik para penguasa yang suka menghilangkan mereka-mereka yang suka "bernyanyi" seperti contoh kasus Munir (lihat lagu jalang dan di udara).

Namun, isi CD ini bukan melulu mengkritik. Efek Rumah Kaca juga menunjukan sisi kemanusiaan kita dan reaksi wajar seorang manusia biasa. Salah satu lagu yg buat saya menarik (sebenarnya, tak ada lagu di CD ini yang tidak menarik :D) adalah bukan lawan jenis. ERK bisa saja sekedar menceritakan fenomena gay dan lesbian atau sisi dalam mereka dalam melihat dan menghadapi dunia seperti layaknya buku-buku cerita yang bertebaran di toko buku saat ini. Tapi, ERK memilih untuk menceritakan sisi para laki-laki straight (atau S-8 bahasa gaynya :P) yang memiliki kekhawatiran yang terpendam… bahwa laki-laki gay itu suka padanya. Satu rasa yang saya rasa sangat manusiawi sekali. Satu rasa yang mungkin secara malu-malu diungkapkan di kehidupan biasa.. mungkin karena takut menyinggung perasaan para gay.

Selain itu, ERK juga menampilkan sisi-sisi reflektif dan melankolik secara bersamaan yang sangat… gue banget. Maksudnya, setiap orang bisa dipastikan menemukan dirinya dalam semua atau salah satu lagu ERK. Buat mereka yang reflektif dan religus, saya yakin mereka akan suka debu-debu beterbangan, sebuah lagu ERK yang bernuansa religius dengan tetap menampilkan gaya bermusiknya sendiri. Buat mereka yang melankolik, coba dengarkan lagu melankolia atau insomnia. Buat mereka yang reflektif dan easy going, coba dengar lagu hujan bulan desember. Dan terakhir, tentu saja "lagu cinta" andalan ERK, jatuh cinta itu biasa saja. ERK tidak saja mengkritik tapi juga mengdekonstruksi arti baru satu kata yang umumnya dimengerti semua orang…. cinta.

Begitu bagus-bagusnya semua lagu ERK, sampai-sampai saya bingung memilih yang terbaik atau mengurutkannya dalam urut kacang mulai dari yang paling bagus hingga paling jelek. Buat saya, semua punya keunikan sendiri-sendiri. Yang mungkin membedakan mereka bukan kualitas lagunya namun justru mood si pendengarnya. Saya sebagai penikmat lagu-lagu ERK mengucapkan selamat datang pada ERK, good job, guys! dan sudah tidak sabar menunggu gebrakan ERK berikutnya :-)

Comments (2)