Valentine dan Solidaritas antar Perempuan

14 February 2009. Hari sabtu. Malam minggu. Valentine. Sebagian orang mungkin tidak merayakan. Entah karena diharamkan atau memang tidak peduli. Sebagian lagi merayakan valentine dengan caranya masing-masing. Romantic candle light dinner? Se-box coklat, setangkai bunga mawar merah dan secarik puisi? Datang bersama ke pasangan ke event-event valentine? Mencari sudut gelap di pelosok kota hanya untuk mojok berduaan? Posting kalimat atau tulisan cinta kiriman sang terkasih? Atau posting agak nyinyir soal valentine itu sendiri, kaya gue hehe..
Valentine kali ini, dihabiskan berdua sama tita. I know, for some of my friends, the fact that I’m spending a valentine with tita, worries them :-) Makin jauuuuuh dari kemungkinan nikah, hihihi… But hey, kapan lagi dua makhluk muncrut bin gembyul bisa menghabiskan akhir pekan bersama-sama, mulai dari bangun tidur sampe tepar ngorok (dalam arti yang sebenarnya) karena kecapean? hihihi..

Valentine tahun ini didedikasikan untuk perempuan, utamanya solidaritas antar perempuan. Suatu hal yang saya rasa susah dibangun, bahkan di antara perempuan feminis sendiri. Valentine kali ini, saya bersentuhan dengan dua isu perempuan.

Yang pertama, pelatihan perancangan peraturan berperspektif gender di Aceh. Sebenarnya, pelatihan ini melanjutkan apa yang Bibip sudah mulai rintis. Saya hanya tinggal meneruskan saja. Pelatihannya sangat menarik karena cuma diikuti 6 orang, saya berkesempatan lebih membumikan metode MPM, dan topiknya tentang penyelesaian kasus perempuan korban konflik di Aceh. Yang saya suka dari pelatihan ini, kami membahas tuntas mulai dari mencoba keluar dari kebiasaan merancang peraturan –mengubah dari membenarkan yang biasa menjadi membiasakan yang benar– sampai persoalan-persoalan strategi advokasi kepentingan perempuan, yang selalu saja dipertanyakan.

Yang kedua, program percontohan penguatan penyelesaian sengketa informal di 7 nagarai di Sumatera-Barat. Program yang serupa juga akan dilaksanakan di NTB. Peran PSHK (dan LeIP) melanjutkan perjuangan teman-teman di daerah untuk advokasi di tingkat nasional. Sum-Bar yang terkenal dengan sistem matrilinealnya, rupanya tidak kuasa melawan dunia patriarki yang justru melemahkan peran perempuan, terutama bundo kanduang, dalam proses penyelesaian sengketa adat. 

Di tengah dua kegiatan menarik inilah, saya merayakan valentine, bersama sahabat-sahabat saya, toni dan timun (ih, kompak deh pake huruf “t” hihihi). Perayaan valentine lengkap dengan aksesoris pelengkapnya. Nongkrong di ulee kareng dengan sanger hangat dan roti srikaya dengan obrolan santai teman-teman dari ACSTF, agung dan dua “bule asia” dari UNIFEM. Disuguhi pemandangan pantai di pesisir selatan Sumatera Barat, diapit pegunungan, di warung seorang nenek tua yang sedang menjemur pinang yang akan dijual dengan harga Rp. 3500/kilo dan di rumah nenek-nenek bundo kanduang yang tomboy masih naik motor di umurnya yang mungkin sudah mendekati kepala 7 dan membuka tempat penitipan anak (termasuk untuk cucunya). Dan oh ya, ucapan selamat valentine juga dari mas har, selamat rahardjo, hihihi…. garing abis.

Ucapan valentine ke pasangan? ah… kita terlalu terdoktrin untuk menyatakan perasaan secara langsung. Satu hal yang kami pelajari dari kearifan masyarakat Sumatera-Barat adalah kepandaiannya dalam berpantun. Mereka mungkin tidak mengenal bahasa minang untuk “I love You”. Tapi mereka punya jutaan pantun dari pelbagai aspek dan gaya, untuk menyatakan perasaan… hehe.. amboiiii seminggu tidak bersua rasanya bagai bulan merindukan bertemunya dengan matahari (wah, gerhana dong hehehe..). 

Soal teori tentang cinta dan bercinta? Ah, silakan saja berteori soal cinta. Kali ini saya sepakat dengan ulum. Yang lebih enak, memang yang mengalir. Gak pake teori-teori gitu. Teori, menurut richard robison, sederhananya adalah cara manusia menjelaskan kekonteksannya. Membantunya memahami situasi. Kadang, teori dikeluarkan hanya untuk diri sendiri, sebagai pengarah. Belum tentu benar-benar dipahami, apalagi dilakoni. Dan seringkali jadi lubang jebakan bagi diri si penteori sendiri. 

Sebagai contoh, beberapa feminis seringkali mendorong perempuan untuk mengambil kontrol terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya. Untuk memiliki otonomi terhadap dirinya dan menyadari seksualitasnya sebagai suatu kekuatan. Asumsinya, dengan cara begini perempuan bisa terbebaskan dari belenggu patriarki dan menjadi manusia yang otonom. Dan dalam hitungan ini, relasinya dengan laki-laki umumnya selalu jadi patokan, sejauh mana perempuan mampu menjadi manusia yang otonom itu. Dari segi teori, memang indah. Mana ada teori yang tidak indah, kecuali dari makhluk yang nyinyir hehe..

Tapi ironisnya, perempuan suka terjebak dengan teorinya sendiri, hehe. Perempuan bisa (merasa sudah) menjadi makhluk yang otonom dan sekaligus (tanpa sadar masih) tergantung pada laki-laki. Lebih parahnya, bila solidaritas antar perempuan tidak mampu dibangun dan terjadilah apa yang teman saya, yang mengaku seorang feminis radikal, katakan, “selalu ada laki-laki di antara perempuan”. Otonomi yang malah menempatkan laki-laki sebagai barang, yang harus diraih dan dipertahankan mati-matian dan tentu tidak mengubah apapun di tingkat relasi. Malah melihat perempuan lain, yang sebenarnya juga berada dalam posisi yang sama sebagai korban, sebagai musuh… yang perlu dihajar, dengan cara yang jalang khas perempuan atau santun. 

Tentu saja, dalam hal ini perempuan tetaplah menjadi perempuan pada umumnya. Sumber energi. Sumber pemberi dan ironisnya, penuntut cinta. Sebuah pertanyaan untuk cinta, menurut seno gumira, “apakah kau mencintaiku?” Sebuah, namun selalu ditanyakan tanpa henti hihihi.. Entah tidak dijawab-jawab atau tidak yakin-yakin.. Atau, terjebak pada relasi dimana dirinya tidak dihargai tapi ya itu, susah keluar…

Jadi, valentine kali ini saya dedikasikan untuk solidaritas antar perempuan.

Comments

Partai Tidak Milih

Sekarang lagi ramai soal fatwa MUI yang mengharamkan golput. Ulasan yang mengkritik rasanya sudah banyak, ya. Toh, MUI tetap tidak bergeming mempertahankan kebodohannya. Konon katanya, obatnya orang bodoh ya diajari. Tapi kalau tidak jua bisa diajari, apa dong obatnya? Ah, sudahlah. Tulisan ini tidak mau menambah koleksi kekesalan masyarakat terhadap MUI yang kian memuncak. Tapi menelusuri kenapa golput jumlahnya masih banyak?

Kebanyakan orang memahami golput sebagai sebuah sikap tidak peduli, acuh, abai atau bentuk ketidakpercayaan terhadap (elit) politik dan bagaimana sistem politik bekerja di Indonesia.

Saya kebetulan lagi terlibat menulis dan bantu mengedit catatan awal tahun (Cawahu) atas kinerja DPR di sepanjang tahun 2008. Satu bacaan saya adalah bagaimana DPR mengelola berbagai kepentingan dan meramunya menjadi sebuah kebijakan yang menyelesaikan masalah sehingga diterima semua pihak. Tahun-tahun lalu, kami sudah terlalu sering berkata, DPR jarang sekali mengeluarkan produk kebijakan yang menyelesaikan masalah. Nambah masalah sih sering. Tahun ini kami menampilkan bagaimana DPR mengelola dan mengolah aspirasi masyarakat menjadi suatu kebijakan… yang merugikan semua pihak. Niatnya sih mungkin win-win solution, kompromi… tapi apa daya semua pihak merasa tidak diuntungkan. Contoh sederhana, UU Pornografi yang kontroversial. Baik pihak yang mendukung, yang kontra, yang liberal dan yang fundamentalis sebenarnya ditipu. Tidak heran, dari kaum pekerja seni, aliansi bhineka tunggal ika, aktivis HAM, kelompok perempuan, sampai HTI pun mau mengajukan uji UU ke MK. 

Proses kompromi pada interpelasi kasus lapindo dan BLBI juga begitu. Tim dibentuk dan Lapindo diharuskan bayar ganti rugi (meski dibilang penyebabnya adalah fenomena alam), tapi toh lapindo bebas. UU Usaha Mikro, Kecil dan Menengah akhirnya dihadirkan, tapi masih dengan pendekatan lama yang lebih mirip basa-basi dibanding kebijakan yang benar-benar mendorong UMKM yang punya kontribusi signifikan ke perekonomian negara itu.

Dunia politik kita memang suram. Produk yang dihasilkan dari senayan memang selalu produk politik. Sedimentasi atau bahkan residu dari proses politik. Tapi apakah yang residu tadi menyelesaikan masalah dan menguntungkan buat masyarakat ke depan, nah itu die masalahnya.

Kalau mau menelusuri lagi, banyak hal yang membuat dunia politik kita makin suram. Partai politik jarang ada yang punya platform yang jelas. Yang menampilkan kebersihan pun, bukan tanpa cela. Fundamentalis gaya baru, yang dibungkus dengan kesopanan yang membumi, keliatannya terbuka, tapi kadang menipu. Kenapa dibilang menipu, karena kadang-kadang keliatan aslinya, yang ironisnya, kelihatan berseberangan dengan segala hal-hal baik yang dikampanyekan sebagai trade marknya. Mungkin memang itu tantangannya kalau mengaku-ngaku baik dan bersih. Tuntutannya lebih tinggi. Toh katanya, barang siapa menempuh jalan kesucian, siap-siaplah menghadapi kelokan yang berliku, terjal dan berbatu!

Kembali ke laptop, platform politik ini pun seringkali berubah-ubah, tergantung isu yang dibahas. Yang mendasarkan pada nasionalisme (dan sekulerisme), cuma bisa walk-out. Secara politik, memang terlihat sebagai aksi yang keren, berani dan lain dari yang lain. Tapi tidak menimbulkan pengaruh apa-apa pada level kebijakan. Yang keliatan islami tetapi tidak mau disebut partai islam dan mengagungkan pluralisme serta mengandalkan tradisi intelektualitas, tetap saja tidak berani mengatakan tidak untuk kebijakan-kebijakan yang mengarah pada membuat negara ini menjadi sektarian.

Selain tidak punya platform yang jelas, persepsi mereka mengenai diri sendiri sebagai partai politik pun tidak jelas. Mereka yang berusaha memperbaiki hal ini dan menawarkan konsep yang “berbeda” pun, masih punya cela. Ambil contoh, partai politik yang mengadopsi konsep dakwah dan politik menjadi satu yang diterjemahkan ke dalam bungkusan amal sekedar semakin menguatkan betapa agama ditempatkan sebagai alat politik. Dari ilmu politik pun menimbulkan pertanyaan, apa bedanya partai politik dengan lembaga amal/sosial?

Bahwa politik dan partai politik harus mengandung unsur kepekaan, saya setuju sekali. Tapi masalahnya adalah, bagaimana kepekaan ini seharusnya dilakukan oleh partai politik. Apa sih porsi partai politik yang dalam hal ini jelas beda dengan lembaga amal? Atau bentuk amal seperti bagaimanakah yang seharusnya dilakukan partai politik? Kuncinya satu: keberpihakan dalam kebijakan! Saya teringat teman saya, salah satu councilmen di district II Maryland, US. Dia secara reguler melaporkan “amal”nya dia kepada para konstituen. Bahwa dia membantu memfasilitasi kebijakan di bidang pendidikan yang berdampak pada pembentukan atau perbaikan sekolah, pelayanan publik yang lebih baik dsb di wilayahnya. Ini bentuk amal yang sustainaibilitasnya terjamin. Bukan jenis amal yang hit and run, yang sifatnya kondisional, bila ada bencana… sedia rekening, kumpulin bahan, kirim mobil, dan pasang bendera partai. Amal jariyah anggota parlemen yang tetap menjaga relasinya dengan konstituennya. Mendengar, merespon dan melakukan.

Hal-hal lain yang membuat dunia politik suram terlihat tanpa harapan adalah anggota parlemen yang tidak mandiri, masih terikat pada fraksi, aturan internal DPR yang banyak mengandung logika demokrasi terbalik, budaya, ketidakmampuan, de el el. Dalam konteks ini, slogan “satu suara anda sangat berarti” menjadi sesuatu yang tidak logis. Tidak masuk akal. 

Tapi, apakah golput tidak dapat disebut kekuatan politik? Salah. Tidak bisa bermain di kancah politik? Ah, salah juga!

Golput justru pemilih yang sadar dan peduli. Singa yang tidur. Singa yang produktif, kok. Mengaum-ngaumnya hampir setiap hari dan tidurnya cuma sehari, waktu pemilu aja :-) Dia tidak bisa dihentikan hanya dengan fatwa. Singa yang akan bangun sendiri tanpa harus dipecuti dan ditakut-takuti oleh kata “haram”, bila memang aumannya didengar dan diikuti hingga membawa perubahan.

Golput bisa juga bermain di kancah politik. Siapa bilang golput tidak bisa bikin partai? Saya ingat waktu memantau pemilu di Belanda. Banyak terdapat partai-partai dengan nama lucu, salah satunya “Partai Tidak Milih” (geen vote partij). Saya rasa, ini bisa saja terjadi, kalau singa-singa tidur ini pada kompak melakukan keusilan :P. Jumlahnya cukup besar, kok :-)

Comments

On Self-Confidence

These couple months, found out that  some people I knew have problems with self-confidence. I found it a little bit strange, in a way. I think they have no reasons to be not so confident about themselves. I think they’re great persons. If there’s anyone who should have not been confident about themselves, it should have been me :-) And yet, tita is always always telling me that I have something to be proud of, although confidence is not about being proud of yourself at all.

Still, why people could feel that way about themselves? What are the reasons? Is it our own fears? Is it our own wrong assumptions about the world, the society or something else? Is it the combination of both? Probably.

A friend of mine did not agree with me. That friend was saying that the people who have least confidence, it doesn’t mean that they’re really not confident. On the contrary, they can be very confident about themselves. In fact, those who look so confident about themselves, may be the least confident person deep down. They cover their lack of self-confidence (and sometimes insecurity) with domination, agrresiveness, etc.

If you’re feeling not so confident, you may have the feeling that you got nothing to lose. If you lose, you suck and it is already in your equation (you = suck). If you are not, well, that’s…. a nice irregularity! The point is, you got nothing to lose. You only have two probability on your way, one that is already predicted (cause you thought that you would suck anyway so when it happens you don’t feel suprise at all :-D) and two, you feel something better about yourself without being snob or whatever (cause you’re still thinking that you suck :P). And this is the arguments that I probably got nothing to lose and that I probably have that self-confidence anyway. It’s hidden somewhere but it’s there.

And I’m thinking maybe that person is right after all. Maybe, it is the combination of fears and false assumption that create our lack self-confidence. Fears which is based on our false assumptions. And it is your mind that creates your own fears, your own false assumptions. Once you can liberate yourself, your mind, you ‘re fine. You may not turn to be a very confident person, but you feel better about yourself and everything that will come your way. You feel that you are in line with the world, with the universe.

Emancipate yourself from mental slavery. None but ourselves can free our mind (bob marley)

Comments

I’m Tired

Belum berani bikin dan pasang puisi sendiri hehe.. Ini dari http://www.authorsden.com/visit/viewPoetry.asp?id=135719

 

I’m Tired 

I’m tired of being misunderstood,

               nerves are shot,

               weak – like old wood.

 

I’m tired of being ill,

               no energy, can’t think,

               losing my skills.

 

I’m tired of so-called friends,

               stabbing me in the back,

               again and again.

 

I’m tired of trying to make things right,

               i give up – I surrender,

               no will to fight.

 

I’m tired of seeing others in pain,

               raises frustration,

               drives me insane.

 

I’m tired of not being able to cry,

               i’d melt away,

               nothing left inside.

 

I’m tired because I can’t feel,

               walking in a daze – numb

                this can’t be real.

 

I’m tired of being “strong,”

               i’m weak, i’m fragile,

               its gone on way to long.

 

I don’t know what else to say,

              i’m hoping, i’m dreaming,

              i’m begging, i’m pleading,

              please, take this feeling away.

 

Right now… I’m just tired…

 

Comments

On Fears

Most of us have fears. There are many kinds of fears. Here are two of them. The first one is so… me! :-) I embrace fear,  doubt, insecurity and uncertainty, all of them at once. Yet, I still want to flow although I know they’re all flowing with me too. All in one package. I don’t know whether that makes me stupid (flowing with those fears, doubts, insecurity and uncertainty), coward, or brave :-) Anyway, the second poem is dedicated to someone. You may guess to whom the second fears belongs to, but I doubt that you know who that person is, hehe..

Fear, Doubt, Insecurity, Uncertainty

http://www.poetseers.org/the_poetseers/sri_chinmoy/library/the_wings_of_light/part_1/fear-doubt-insecurity-uncertainty/view

Dark fear invades my body.
Wild doubt fills my mind.

Feeble insecurity empties my heart.
Eyeless uncertainty veils my soul.

Yet my life-river cheerfully
Wants to flow
Into the stream of the Will-Supreme.

 

http://www.thoughts.com/skull_iris/blog/fear-poem-20058/

Fear

Fear comes along in many ways, shapes, and forms.
But for some more than others, it can be a more treacherous storm.
Some people can hold it in and hide it,
This burden for which they cannot be acquitted.
They show once side of their face to the world,
But keep the shattered one inside and disguise it from the imaginary dream-world.

Tick
As the time on my clock slowly crawls by
Tick
I sit around and wonder why
Tick
Why this pain had to grow to become so alive
Tick
In this small and broken heart of mine
Tick

The fearful fingers of failure and defeat creep their way into my head,
To try and scare me into thinking I’m better off dead.
To be a disappointment and not perfect for someone?

I would rather grab the golden gun.
The terror of being alone and lonesome,
Makes tear-stained roses leave behind the songs they once sung.

The silence that comes from within the dark and seamless solitude,
The anxiety and panic scars will forever be tattooed.
But what I think I’m afraid of most,
Are the dancing rays of happiness,
For they haunt me like a ghost,
Because my inner self is a complete and utter mess.
But, the mind prison in which I hide myself in,
Is the place where all my fears seem to begin.

Comments

Demi Kemanusiaan yang Buta

Ingat film pay it forward? Gagasan dari anak kecil yang mencoba mengaplikasikan pola bisnis MLM dalam membantu sesama. Ingat juga dengan Robbie Williams, penyanyi mantan boy band yg menjadi solo dan gila. Disebut gila karena dia pernah mendonasikan satu ginjalnya untuk orang yg dia gak kenal. What do they have in common? Kemanusiaan yg buta, yang mungkin disatukan dengan harapan punya kontribusi untuk dunia yang lebih baik, sekecil apapun… even in a freaky way.

Saya ingat dulu, waktu membentuk planetmuslim. Idenya berangkat dari menghubungkan antara permintaan dari orang-orang yang ingin nyumbang tapi bingung kemana dan supply panti-panti atau lembaga sosial lain yang perlu disumbang. Mungkin karena inisiatornya kebetulan a freak NGO worker who must consider the elements of accountability and transparency, mekanismenya jadi ada survey pendahuluan, penerimaan, pelaporan, dll dll. Mencari dan memilih panti dan lembaga yang membutuhkan. Mencari tahu kebutuhan anak2 itu apa. Apakah anaknya pintar?  Apakah anaknya rajin sekolah? Dan kadang, ada juga yang bertanya apakah anaknya Islam? Duh. Semuanya terorganisasi dan teratur. Perlu menggorganisasi massa. Perlu mengorganisasi kegiatan. De el el. So formal. So organized. So based on the rules.

Cerita ini sudah jadi bagian dari masa lalu. Dihancurkan oleh satu orang, yang memakai dana bantuan untuk kepentingan pribadi dan sebagian dari kami kena getahnya untuk mengganti uang tersebut. Dan gw putuskan utk tidak diteruskan, karena gagal menjadi kegiatan bersama. And I thought, there has to be lots of alternatives and options to do that. A better way than this one. Dan mungkin kecewa juga. I don’t trust that person since beginning. But my friends were saying I was threathened by her. Ridicilous! I have a good feeling on people, except on boys :D. And there I was, trying to receive all those comments and (irrelevant) critiques and had to hand-over my leadership to her while I was in my cave, in Den Haag. And voila, next year I know, that she did exactly the things that I was so afraid of. She killed my baby whom I raised for years. Grow it lovingly since it was just a seed.

Anyway, she can killed my baby, but the spirits still there, live within me. Dan lahirlah, konsep yang berangkat dari ide kemanusiaan yang buta. Konsep yang mengandung unsur ketidakberaturan dan spontanitas.  Mirip dengan konsep pay it forward, it’s simply requires you to give your help the best you can do to other person who most probably is a stranger. You would do that, despite all those the do and the don’ts in charity, simply for the sake of humanity.  

And i did it without realizing that I did it. It’s only today that I realized that gosh, I bowed my head to that absurd minded concept of being human. Bukan karena amal. Bukan karena pahala. Bukan karena apa-apa. Simply being human. I bumped with a friend of mine, cimun (aci muncrut :P) who suddenly started this weird conversation with me by asking, “Mbak, muka gue ada yang aneh gak? It was then I know that she was feeling sad that pak jenggot has just passed away. And she just keep on telling me her stories about pak jenggot and his kids. She simply just remembered him by doing that. And I knew then, that his kids need help and we somehow decided to give it, every month, until they’re be able to stand on their feet. I never meet one of them. Don’t have to. Their imaginary pictures do stop by on my dummy brain once a while, at times when I’mtrying to think what extra items that they probably would love to have this month. Cimun’s funky grandma think I’m crazy. A crazy person in a sweet way, though.

So once a while, you bumped with other person again. Telling you their sad stories or other’s sad stories. And they told you more and more of those sad stories, their memories of a stranger to you. And you just simply feeling the urge to help. Yes, of course you’re helping the stranger person based on other person’s memory. But the thing is, you start creating memories with that stranger. And it’s not even as radical as what robbie williams or the concept in pay it forward. Because they’re blinder than we are. The person who received robbie william’s kidney might be a junkie, as the persons that are part of the pay it forward network are not qualified as persons who can receive charity money. But they need help. We could provide help. And the demand and supply just meet! Robbie williams memang mampu membuktikan dirinya bukan sekedar bisa bernyanyi.

Demi kemanusiaan yang buta. Ada yang bilang, buta adalah kondisi dimana ketika kita kehilangan fungsi dan kemampuan penglihatan. Ataukah sebenarnya yang terjadi justru sebaliknya, buta adalah titik dimana kita mendapatkan satu cara melihat yang baru? Entahlah. Tapi saya suka gagasannya.  

 

Comments

Poems by David Wright

Nobody

“It was nobody water” Nobody?
“Is water nobody?” Nobody.
A flower. “Is there nobody?”
But is a flower nobody?

“Nobody but the wind”. Nobody?
“Is the wind nobody?”
“Nobody-delusion”. There is nobody?
And is delusion nobody?

Neue Liebe

In moonlight in the forest
I saw the elves go riding
Their horns I heard sounding
The jingling of their bells
Their ponies white and antlered flying by
Like wild swans, strung against the sky
Their queen,
She bends her head to me and smiles
Now does it mean a new love, or
that I am to die?

Comments

Slow dance

Last week, I did some cleanings at the office. Well, it is better now but I still would not say that my cubicle is so clean and neat :-) While I’m going through some of Rival’s stuffs, the previous inhabitant of the cubicle, I found a really nice poem, written by a dying little girl somewhere in New York. I was impressed by the clarity and the simplicity yet so meaningful of the writings. It’s the fourth paragraph of the poem….

When you ran so fast to get somewhere
You miss half the fun of getting there.
When you worry and hurry through your day,
It is like an unopened gift…. thrown away.
Life is not a race.
Do take it slower.
Hear the music.
Before the song is over..

Comments (5)

Love is An Art of Winning and Keeping

L-O-V-E. Love. Is there anyone in the world who does not know the word? Everyone are either addicted to love or looking for love or hating it but can’t escape it. Love is a subject that dominates all TV programs, all magazines headlines and even a short stories competition in the leading female magazine in Indonesia. Take any women’s magazine and you will find the word on the cover or the front page (I think the only word that can beat love is.. sex hehe).

What is love? How you define it? Yes, we start with the definition. A good analysis always starts with a critical analysis on the definition of specific term. That’s what Karim thought me :-) Well, this is definitely not an analysis, but it’s good to start with definition anyway. And this is the definition of love in wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Love access on September 30th, 2007)

Love is a constellation of emotions and experiences related to a sense of strong affection or profound oneness.[1] The meaning of love varies relative to context. Romantic love is seen as an ineffable feeling of intense attraction shared in passionate or intimate attraction and intimate interpersonal and sexual relationships.[2] Though often linked to personal relations, love is often given a broader signification, a love of humanity, of nature, with life itself, or a oneness with the Universe, a universal love or karma. Love can also be construed as Platonic love,[3] religious love,[4] familial love,
and, more casually, great affection for anything considered strongly
pleasurable, desirable, or preferred, to include activities and foods.[5][2] This diverse range of meanings in the singular word love is often contrasted with the plurality of Greek words for love, reflecting the concept’s depth, versatility, and complexity.

The scope of the article is limited to a relationship love, a heterosexual one to be spesific :-) When a man finds a woman so attractive and vise versa; when a best friends decide to re-new the terms of their friendship into a relationship; when you are corrupted by the feeling of wanting someone so badly for maybe illogical reasons. That’s love in a different meanings.

A person usually have, what I call, the List. The list of expectations. The list could be so detail in listing down what kind of person you’re looking for. Or on the contrary, the list can be so vague. You may feel that you don’t have the list, but it’s there. Deep down inside you. Whatever it is, we always have, even to a certain degree, the list. The list stimulates and motivates you. We interact with this list, we grow up and be matured with the list. Sometimes the interaction makes us to review and re-think of our list and re-new it. So the list could still be changed, sometimes.

Whatever your list is, the question in the first place is how to win a one’s heart. You win his/her heart, and not only you will win his/her person but also his/her love.

At the end, it’s how to win his/her love. And humans are so creative that we’ve been creating and developing billions of ways on how to win one’s love, whether you use Shakespeare-style to a dangdut singer; whether you use the traditional way, letters and poems with the traditional things, music and flowers or the modern way by being so straightforward, expressive and sometimes in public. At the end (of stage one), love has been used and be able to transformed itself to an art of winning one’s heart.

When I said winning, it means you always in a competition. A competition between you and she/he. And sometimes, a competition between you, she/he and other people. But the bottom is, you always in a competition. And like other competition, it has rules with tips and tricks. It has players who follow and break the rules. Fair and unfair play. Honest or cheating players. So be creative, but be aware because it is a competition you’re facing with.

Once you win the game, you’ll go to the next stage, a post-winning stage. A game of keeping.

(to be continued, hehee)

Comments (1)

Efek Rumah Kaca: Nafas Baru Musik Indi Indonesia

Baru-baru ini, seorang teman di kantor akhirnya berhasil menelurkan album musiknya. Namanya cholil. Pekerjaan sehari-harinya adalah manajer keuangan LeIP (Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan), sebuah NGO dalam garda terdepan untuk reformasi peradilan, merangkap bendahara koperasi Puri Imperium. 

Buat komunitas "puri", kehadiran CD Cholil ini sudah ditunggu-tunggu. Sudah rahasia umum kalau jiwa bapak satu ini di musik. Musik dan musik. Mengutip RGA (Rival Ghulam Ahmad-red), Cholil adalah salah satu dari kami, komunitas di Puri Imperium, yang tujuan hidupnya jelas. Sejelas ketika orang yang sedang diuji matanya secara gratisan di optik murahan akhirnya menemukan lensa yang tepat. Musik bagi cholil sudah mengakar kuat seperti Tenaga Dalam yang merupakan energi murni tenaga yang bersumber dari dalam tubuh kita, yang meski bisa diajarkan, dibagi dan ditularkan ke orang lain namun tidak dapat dirampas dan baru hilang manakala si pemiliknya mati. Orang seperti Cholil adalah tipe yang tidak setengah-setengah dan tidak bosan terhadap apa yang menjadi nafasnya: musik. Ia merupakan penikmat, pelaku sekaligus kreator musik.

Singkat kata singkat cerita, CD musik yang belum resmi di launching ini sudah beredar di pasar (setidaknya pasar dalam lingkup pertemanan, hehehe) dan bisa dinikmati dengan membeli CDnya seharga Rp. 35.000 melalui Cholil (0816 1915928) atau menikmatinya secara gratisan di internet (lihat di www.myspace.com/efekrumahkaca)

Nama grupnya, efek rumah kaca. Diambil dari salah satu lagu di CD itu. Personil bandnya: Cholil (gitar merangkap vokalis), Akbar (Drum & Back Vox) dan Adrian (Bass & Back Vox). Musiknya 100% indi. Kenapa dibilang 100%? Karena bukan cuma "indi" dari pengertian jenis musiknya tidak berada dalam jenis musik mainstream pasar, tapi juga dari segi pembuatan, distribusi dan penjualan.. juga "indi" atau independent. Artinya: tidak bergantung dan menggantungkan diri pada industrialisme musik yg berorientasi pasar. Mungkin tidak se"indi" cozy street corner yg menurut gue musiknya benar-benar keluar dari selera pasar pada umumnya (sorry, lil hehehe), tapi setidaknya –ini pendapat dari seorang penikmat musik amatiran yang hanya menjadikan kuping dan selera subyektifnya sebagai dasar penilaian :P– musik dan juga liriknya Efek Rumah Kaca enak didengar, dinikmati dan diulang-ulang.

Album ini layak diacungi dua jempol. Tiap lagu seolah punya cerita, punya makna. Persis nasehat seorang Dionne Warwick pada Michael Jackson. Every song is a story. Tiap lagu dikemas dalam paduan antara musik yang asik dengan lirik yang singkat, padat, penuh makna yang disusun dalam rangkaian kosa kata bahasa Indonesia yang bervariasi.

dan yang paling penting.. kritis.

Ya. Kritis. Cholil sebagai pencipta mayoritas lagu-lagu Efek Rumah Kaca mengkritik di segala bidang. Mengkritik segala sesuatu yang berada di jalur mainstream. Apapun itu.Mulai dari mengkritik industri musik dan bentukan selera pasar musik yang isinya habis mengeksplorasi cinta sebagai barang jualan andalan (coba dengar cinta melulu) hingga mengkritik para penguasa yang suka menghilangkan mereka-mereka yang suka "bernyanyi" seperti contoh kasus Munir (lihat lagu jalang dan di udara).

Namun, isi CD ini bukan melulu mengkritik. Efek Rumah Kaca juga menunjukan sisi kemanusiaan kita dan reaksi wajar seorang manusia biasa. Salah satu lagu yg buat saya menarik (sebenarnya, tak ada lagu di CD ini yang tidak menarik :D) adalah bukan lawan jenis. ERK bisa saja sekedar menceritakan fenomena gay dan lesbian atau sisi dalam mereka dalam melihat dan menghadapi dunia seperti layaknya buku-buku cerita yang bertebaran di toko buku saat ini. Tapi, ERK memilih untuk menceritakan sisi para laki-laki straight (atau S-8 bahasa gaynya :P) yang memiliki kekhawatiran yang terpendam… bahwa laki-laki gay itu suka padanya. Satu rasa yang saya rasa sangat manusiawi sekali. Satu rasa yang mungkin secara malu-malu diungkapkan di kehidupan biasa.. mungkin karena takut menyinggung perasaan para gay.

Selain itu, ERK juga menampilkan sisi-sisi reflektif dan melankolik secara bersamaan yang sangat… gue banget. Maksudnya, setiap orang bisa dipastikan menemukan dirinya dalam semua atau salah satu lagu ERK. Buat mereka yang reflektif dan religus, saya yakin mereka akan suka debu-debu beterbangan, sebuah lagu ERK yang bernuansa religius dengan tetap menampilkan gaya bermusiknya sendiri. Buat mereka yang melankolik, coba dengarkan lagu melankolia atau insomnia. Buat mereka yang reflektif dan easy going, coba dengar lagu hujan bulan desember. Dan terakhir, tentu saja "lagu cinta" andalan ERK, jatuh cinta itu biasa saja. ERK tidak saja mengkritik tapi juga mengdekonstruksi arti baru satu kata yang umumnya dimengerti semua orang…. cinta.

Begitu bagus-bagusnya semua lagu ERK, sampai-sampai saya bingung memilih yang terbaik atau mengurutkannya dalam urut kacang mulai dari yang paling bagus hingga paling jelek. Buat saya, semua punya keunikan sendiri-sendiri. Yang mungkin membedakan mereka bukan kualitas lagunya namun justru mood si pendengarnya. Saya sebagai penikmat lagu-lagu ERK mengucapkan selamat datang pada ERK, good job, guys! dan sudah tidak sabar menunggu gebrakan ERK berikutnya :-)

Comments (2)

« Previous entries